Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Masjid Raya Baiturrahman adalah sebuah masjid yang berada di pusat Kota Banda Aceh. Masjid ini dahulunya merupakan masjid Kesultanan Aceh. Masjid ini memiliki lembaran sejarah tersendiri, yang kini merupakan Masjid Negara yang berada di jantung ibu kota Provinsi Aceh. Nama Masjid Raya Baiturrahman ini berasal dari nama Masjid Raya yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1022 H bersamaan dengan tahun 1612 M. Riwayat lain menyebutkan bahwa yang mendirikan Masjid Raya Baiturrahman di Zaman kerajaan Aceh ialah Sultan Alaiddin Mahmudsyah pada tahun 1292 M.

Perluasan mesjid juga dilakukan kembali pada masa pemerintahan Sri Ratu Nakiatuddin pada tahun 1675 – 1678 M. Banyak orang tua di Aceh menyebutkan bahwa bentuk bangunan Mesjid Raya Baiturrahman ketika itu berkonstruksi kayu, beratapkan daun rumbia, dan berlantaikan tanah liat yang rata dan mengeras menyerupai semen setelah kering. Para jamaah menggunakan tikar dari daun pandan untuk menutupi lantai mesjid sebagai alas. Bentuk atap menyerupai belah kerucut dan berlapis tiga buah dengan kemiringan sekitar 30 derajat.

Foto Masjid Raya Baiturrahman di tahun 1910 – 1930 dari arsip Tropen Museum

Tercatat dalam sejarah mesjid Baiturrahman dua kali dibakar oleh Belanda. Pertama, pada bulan shafar 1290H/10 April 1873 dan dalam pertempuran ini Mayor Jenderal J.H.R Kohler tewas, di depan mesjid tersebut, yaitu di bawah sebatang pohon ketapang/geulumpang, yang belakangan oleh orang Belanda menamakannya dengan Kohler Boom. Tempat ini kemudian diabadikan pada sebuah monumen kecil dibawah pohon ketapang/geulumpang dekat pintu masuk sebelah utara mesjid.

Kedua, pada tanggal 6 Januari 1874 meskipun mesjid dipertahankan mati-matian oleh seluruh rakyat Aceh, tetapi karena keterbatasan dan kesederhanaan persenjataan akhirnya mesjid ini jatuh kembali ke tangan Belanda. Mesjid ini tidak saja jatuh ke tangan musuh, tetapi juga habis dibakar. Tidak lama kemudian Belanda mengumumkan bahwa Aceh sudah berhasil ditaklukkan.

Empat tahun setelah Masjid RayaBaiturrahman itu terbakar, pada pertengahan shafar 1294 H/awal maret 1877 M dengan mengulangi janji jenderal Van Sweiten, maka Gubernur Jenderal Van Lansberge menyatakan akan membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman yang telah terbakar itu. Pernyataan ini diumumkan setelah diadakan permusyawaratan dengan kepala-kepala Negeri sekitar Banda Aceh.

Mesjid Raya Baiturrahman dilihat dari atas

Dimana disimpulkan bahwa pengaruh Masjid sangat besar kesannya bagi rakyat Aceh yang 100% beragama Islam. Janji tersebut dilaksanakan oleh Jenderal Mayor Van der Hejden selaku Gubernur Militer Aceh pada waktu itu. pada hari Kamis 13 Syawal 1296 H/9 Oktober 1879 pembangunan kembali mesjid ini dimulai dan peletakan batu pertama diwakili oleh Teungku Qadli Malikul Adil dan disaksikan oleh rakyat Aceh yang berada di sekitar masjid saat itu.

Pada tanggal 24 Safar 1299 H atau 27 Desember 1881 M, pembangunan mesjid ini dinyatakan selesai kubahnya hanya sebuah saja.dan dapat dipergunakan oleh rakyat Aceh. Arsitek pembangunan mesjid ini adalah seorang Belanda bernama Bruins dari Departemen van Burgelijke Openbare Werken (Departemen Pekerjaan Umum) di Batavia. Untuk urusan keagamaan diminta bantuan kepada penghulu besar Garut agar polanya tidak bertentangan dengan aturan-aturan dalam agama Islam. Bangunan ini diborong oleh seorang Cina yang bernama Lie A Sie (seorang Letnan orang Cina yang berkedudukan di Banda Aceh pada waktu itu). Material untuk membangun mesjid ini sebagian didatangkan dari Pulau Pinang, batu marmer dari negeri Cina, besi untuk jendela dari Belgia, kayu dari Birma dan tiang-tiang besi dari Surabaya.

Pada tahun 1935 M oleh Residen Y. Jongejans Masjid Raya Baiturrahman diperluas bahagian kanan dan kirinya dengan tambahan dua kubah. Perluasan ini dikerjakan oleh Jawatan Pekerjaan Umum (B.O.W) dengan biaya sebanyak F.35.000,- (Tiga Puluh Lima Ribu Gulden), sebagai pimpinan Proyek Ir.Mohammad Thaher (seorang putra Aceh) dan selesai dikerjakan pada akhir tahun 1936 M

Pada masa kemerdekaan di tahun 1958 di bawah kepemimpinan Gubernur Ali Hasjmy mesjid ini kembali diperluas menjadi lima kubah dan ditambah dengan dua buah menara di sampingnya, sehingga bisa menampung 10.000 jamaah. Pelaksanaan perluasan Mesjid Raya Baiturrahman diserahkan kepada N.V. Zein dari Jakarta. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Menteri Agama Republik Indonesia K.H. M. Ilyas pada hari Sabtu 1 Shafar 1387 H/16 Agustus 1958 M. Perluasan ini bertambah dua buah lagi dan dua menara sebelah utara dan selatan. Dengan demikian, Mesjid Raya Baiturrahman mempunyai lima buah kubah dan dua menara. Perluasan ini selesai pada tahun 1967.

Dalam rangka menyambut Musabaqah Tilawatil Qur’an Tingkat Nasional ke-XII pada tanggal 7 s/d 14 Juni 1981 di Banda Aceh, Masjid Raya diperindah dengan peralatan, pemasangan klinkers di atas jalan-jalan dalam pekarangan Masjid Raya. Perbaikan dan penambahan tempat wudhuk dari porselin dan pemasangan pintu krawang, lampu chandelier, tulisan kaligrafi ayat-ayt Al-Qur’an dari bahan kuningan, bagian kubah serta intalasi air mancur di dalam kolam halaman depan.

Bagian dalam Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Masjid Raya Baiturrahman adalah Masjid kebanggaan rakyat Aceh, dimana sejak zaman Belanda berfungsi sebagai benteng pertahanan umat Islam Aceh. Pada tahun 1991-1993 Masjid Raya Baiturrahman melaksanakan perluasan kembali yang disponsori oleh gubernur Dr.Ibrahim Hasan, yang meliputi halaman depan dan belakang serta masjidnya itu sendiri. Bagian masjid yang diperluas, meliputi bagian lantai masjid tempat shalat, ruang perpustakaan, ruang tamu, ruang perkantoran, aula dan ruang tempat wudhuk, dan 6 lokal sekolah. Sedangkan. perluasan halaman meliputi, taman dan tempat parkir serta satu buah menara utama dan dua buah minaret. Menara Utama/Tugu Aceh Daerah Modal merupakan sebuah menara sebagai monumen bahwa Aceh pernah dinyatakan sebagai Daerah Modal di dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Menara terdiri dari enam lantai yang dapat dicapai melalui lift maupun tangga biasa.

.

Menara utama (tugu Aceh Daerah Modal)

Dilihat dari sejarah, Masjid Raya Baiturrahman ini mempunyai nilai yang tinggi bagi rakyat Aceh, karena sejak Sultan Iskandar Muda sampai sekarang masih berdiri megah di tengah jantung kota Banda Aceh. Mesjid Raya ini mempunyai berbagai fungsi selain shalat, yaitu tempat mengadakan pengajian, perhelatan acara keagamaan seperti maulid Nabi Besar Muhammad SAW, peringatan 1 Muharram, Musabaqah Tilawatil Qur’an (yang baru selesai MTQ Telkom-Telkomsel Nasional), tempat berteduh bagi warga kota serta para pendatang, salah satu obyek wisata Islami

Waktu gempa dan tsunami (26 Desember 2004) yang menghancurkan sebagian Aceh, mesjid ini selamat tanpa kerusakan yang berarti dan banyak warga kota yang selamat di sini. Kawasan/lingkungan mesjid ini juga dijadikan kawasan syariat Islam, jadi sebaiknya kita jaga dan jangan dikotori oleh perbuatan-perbuatan yang melecehkan mesjid serta melanggar syariat Islam.

Fasilitas

  1. Masjid Raya Baiturrahman memiliki lembaga pendidikan formal, yaitu madrasah Tsanawiyah Darusysyari’ah dan Madrasah Aliyah Darusysyari’ah dengan diasuh oleh 28 guru negeri dan swasta.
  2. Masjid Raya Baiturrahman memiliki lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam bidang finansilal, yaitu Baitul Qiradh Baiturrahman Banda Aceh, dalam upaya membantu masyarakat ekonomi lemah yang dikelola oleh seorang Direktur dengan 5 (lima) orang anggota. Dengan perkembanganya Baitul Qiradh kini memiliki 3 cabang asset 4 M.
  3. Masjid Raya memiliki Media Elektronik yang diberi nama Radio Baiturrahman dimana setiap waktu mengrely kegiatan Masjid, berupa pelaksanaan shalat lima waktu, menyiarkan Halqah Maghrib dan Kuliah Shubuh. Radio Baiturrahman dapat menjangkau sebagian wilayah Aceh terutama Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Barat dan Kabupaten Pidie. Radio Baiturrahman juga menyiarkan bergagai informasi melalui ceramah, dialog, dan diskusi juga menghibur masyarakat dengan nuansa lagu-lagu islami disamping merelay siaran Nasional.
  4. Masjid Raya Baiturrahman memiliki media cetak dengan nama “Tabloid Gema Baiturrahman” yang dikeluarkan pada setiap hari jum’at dengan menyajikan khutbah Ju’at dan tulisan yang bernuansa Islami. Media tersebut disebarkan kepada jama’ah sebelum shalat jum’at di Masjid Raya Baiturrahman bahkan sebagian disampaikan ke sejumlah masjid yang berada di kota Banda Aceh, dan Masjid-masjid dalam Daerah Istuimewa Aceh.
  5. Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, selain memiliki lembaga pendidikan tingkat dasar dan menengah juga membuka perguruan tinggi “Dayah Manyang” pada pagi hari yang pesertanya terdiri dari orang tua khususnya kaum laki-laki yang diasuh oleh para ulama pasantren modrn dan alumni madinah. Kegiatan ini dilaksanakan pada setiap hari rabu dan jum’at dari pukul 08.00-11.30 Wib di ruang aula belakang Masjid Raya Baiturrahman

sumber : berbagai sumber

Perihal bpmkotabandaaceh
Badan Pemberdayaan Masyarakat Kota Banda Aceh

One Response to Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

  1. mpu banda aceh mengatakan:

    kami mendukung Banda Aceh menjadi model Kota Madani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: