Kampanye Earth Hour Banda Aceh 2014

earth hour 2014 HER_1033TBBanda Aceh – Plh Walikota Banda Aceh meminta semua pihak untuk memberikan aksi nyatanya dalam rangka memberikan kepedulian terhadap bumi dalam kehidupan sehari-hari, dan bukan hanya 60 menit saja. Hal in disampakan Illiza, Sabtu malam (29/3/14) saat memperingati Earth Hour di Hotel Hermes Palace, Jalan P Nyak Makam, Banda Aceh.

Menurut Illiza, ketika muncul pernyataan ‘ini aksiku mana aksimu’, semua orang harus beraksi untuk melakukan sesuatu buat bumi, dan aksi itu harus dilakukan setiap saat dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya 60 menit saja seperti aksi mematikan lampu selama 1 jam tersebut.

Tambah Illiza, bebicara tentang bumi merupakan berbicara tentang lingkungan yang sering kali diabaikan oleh manusia sehingga menghadirkan musibah demi musibah buat manusia itu sendiri.

“Mari kita berpartisipasi menjaga alam ini, tentu kehidupan kita akan membaik juga. Satu pohon saja yang kita tanam berarti kita telah menanam satu kehidupan baru” ajak Illiza.

Dalam kesempatan tersebut, Illiza juga mengatakan saat ini Banda Aceh memiliki Hutan Kota BNI yang terletak di Gampong Tibang dengan luas sekitar 7 Hektar dan memiliki pohon sebanyak 3600 pohon dari 160 jenis.

“Hutan kota ini adalah asset termahal yang harus kita jaga karena mampu menghasilkan 3 ton oksigen dalam sehari” ungkap Illiza.

Kedepan, lanjutnya, Pemko Banda Aceh akan membebaskan lagi lahan untuk dijadikan hutan-hutan tambahan di Kota Banda Aceh. Karena sesuai dengan konsep Green City, Banda Aceh harus memiliki lahan 20 persen dari wiayahnya untuk space publik.

Pantauan dilapangan, pemadaman lampu selama 60 menit ini dilakukan tepat pada pukul 21.00 Wib. Pemadaman lampu kali in ditandai dengan pukulan rebana yang dilakukan oleh Illiza.

Turut hadir pada kegiatan ini, unsur WWF Aceh, GM Hermes Palace Hote, GM The Pade Hotel, Pimpinan PT Arun dan ratusan mahasiswa Unsyiah yang juga turut mengisi acara dengan penampilan grup Perkusinya.

sumber : http://www.bandaacehkota.go.id

foto : http://atjehpost.com

Aksi Switch Off Earth Hour di Seluruh Dunia
Jakarta – Sebanyak 200 ikon kota di 37 kota di Indonesia dipadamkan dalam gerakan penghematan listrik untuk menyelamatkan bumi melalui kampanye Earth Hour Indonesia 2014 yang digelar pada Sabtu (29/3), selama satu jam, pukul 20.30-21.30.

 Rakyat Indonesia bersama satu miliar orang di seluruh penjuru dunia turut berpartisipasi dalam aksi switch off atau mematikan lampu dan peralatan elektronik lainnya yang tidak digunakan, selama satu jam pada pukul 20.30-21.30 waktu setempat.

Di tingkat global, aksi switch off juga diikuti oleh ikon-ikon dunia, antara lain: Empire State Building di New York, Tower Bridge dan St Paul’s di London, Edinburgh Castle di Skotlandia, Brandenburg Gate di Berlin, Eiffel Tower di Paris, Kremlin and Red Square di Moskow, Bosphorus Bridge yang menghubungkan Eropa dan Asia, Burj Khalifa di Dubai, dan Marina Bay Sands di Singapura.

Di tahun keenam penyelenggaraannya, WWF-Indonesia telah melakukan rangkaian penggalangan komunitas yang dikemas dalam KolaborAKSI Serentak: “Ini Aksiku! Mana Aksimu?” sejak awal tahun.

Kampanye Earth Hour Indonesia 2014 didukung oleh mitra-mitra korporasi, yaitu: Central Park Mall, Weber Shandwick Indonesia, PT.BFI Finance Indonesia Tbk., TEH KOTAK Thanks to Nature, Garuda Indonesia, Hotel Indonesia Kempinski dan LINE.

Direktur Komunikasi dan Advokasi WWF Indonesia Nyoman Iswarayoga mengatakan bila tahun 2013 lalu, gerakan Earth Hour diikuti oleh 31 kota di Indonesia. Tahun ini, setelah beberapa kali aksi serentak dilakukan menjelang Earth Hour, dukungan komunitas untuk Earth Hour meningkat menjadi 37 kota di Indonesia – menjadikan Indonesia sebagai gerakan Earth Hour berbasis komunitas terbesar di dunia.

Keberhasilan kampanye ini tidak diukur dari penghematan listrik pada satu jam di Earth Hour. Tetapi, amplifikasi perubahan gaya hidup ramah lingkungan yang digerakkan oleh para Earth Hour Champion di kota-kota pendukung Earth Hour. Dan dari program berkelanjutan yang ditargetkan untuk menjadi bagian dari perubahan di kota mereka masing-masing.

“Kami percaya bahwa amplifikasi aksi oleh komunitas yang demikian luas akan berkontribusi pada tujuan awal Earth Hour. Yaitu berkontribusi dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Sebuah gerakan perubahan akan efektif jika seluruh lapisan di masyarakat berkolaborasi, terutama orang-orang mudanya,” kata Nyoman yang melakukan acara puncak Earth Hour di Central Park Mal, Jakarta, Sabtu (29/3) malam.

Dijelaskannya, gerakan Earth Hour Dunia telah dimulai pada tahun 2007 di Sidney, Australia. Sebagai sebuah aksi serentak individu, komunitas, korporasi, dan pemerintah dalam upaya mengurangi laju pemanasan global dan dampak perubahan iklim.

Hanya dalam kurun waktu tujuh tahun, gerakan EARTH HOUR telah berkembang menjadi aksi dengan partisipasi massa terbesar di dunia. Tumbuh dari hanya satu kota menjadi 7.000 kota, dari satu negara menjadi 158 negara di tujuh benua, dan dari 2 juta menjadi lebih dari 1 milyar peserta di seluruh dunia.

“Kini, Earth Hour sudah diakui sebagai kampanye lingkungan hidup global terbesar dalam sejarah,” ujarnya.

Di Indonesia, Earth Hour dilakukan pada 2009, dimulai hanya di Jakarta. Berkat intensitas kampanye di ruang publik dan jejaring media sosial yang dilakukan oleh WWF-Indonesia dan komunitas-komunitas organik pendukung Earth Hour lewat kampanye “Ini Aksiku! Mana Aksimu?”, gerakan ini mengalami peningkatan revolusioner. Hingga mampu memobilisasi banyak kota di Indonesia untuk partisipasi dalam aksi perubahan gaya hidup.

Hanya dalam lima tahun sejak dimulai, gerakan Earth Hour Indonesia di tahun 2014 mencatat sebanyak 37 kota yang menyatakan berpartisipasi.

Kota-kota tersebut adalah Banda Aceh, Lhoksemauwe, Padang, Pekan Baru, Palembang, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, Cimahi, Sukabumi, Tasikmalaya, Purwakarta, Kuningan, Yogyakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Malang, Kota Batu, Kediri, Sidoarjo, Denpasar, Mataram, Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin, Samarinda, Balikpapan, Sangata, Palu, Sorowako, Makassar, Kendari dan Ambon.

Perbedaan penting Earth Hour tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya adalah adanya aksi berkelanjutan yang diupayakan oleh para Earth Hour Champions sebagai bagian dari kampanye Earth Hour.

Aksi-aksi berkelanjutan ini antara lain: Banda Aceh dengan aksi tanam mangrove di pesisir Aceh Besar; Bekasi dengan aksi tanam mangrove di Muara Gembong; Bandung dengan aksi pengelolaan sampah kota; Yogyakarta dengan aksi tanam pohon produktif di Desa Terong; Samarinda dengan aksi revitalisasi sungai (tanam bakau dan bersih sungai); Makassar dengan kampung hijau dan sekolah satelit dalam skema Makassar Creative City Movement; dan Denpasar dengan aksi adopsi koral untuk birukan laut di Bali Barat dan aksi tanam pohon untuk hijaukan hutan di kaldera Gunung Batur Kintamani. [Berita Satu]

Perihal bpmkotabandaaceh
Badan Pemberdayaan Masyarakat Kota Banda Aceh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: