Kunjungan Kepala Museum Negeri Kelantan

Banda Aceh Kepala Museum Negeri Kelantan Malaysia, YABrs Tuan Haji Dr Nik Muhammad Azlan Bin Ab Hadi bersama dengan sejumlah stafnya mengunjungi Kota Banda Aceh. Kedatangan Nik Muhammad Azlan disambut langsung Walikota Banda Aceh, Hj Illiza Saaduddin Djamal SE, Jumat (3/7/2015) di ruang rapat Walikota.

Nik Muhammad Azlan mengungkapkan kedatangannya, selain untuk menguatkan ukhuwah Islamiah juga dalam rangka mempelajari manajemen pengelolaan museum di Banda Aceh.

“Setelah bencana tsunami yang melanda Banda Aceh, kami lihat perkembangan museum di sini sangat bagus, kami ingin mempelajari seperti apa pengelolaannya,” ujar Nik Muhammad Azlan. Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Kompleks Museum Aceh

Museum Aceh
Museum Aceh didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, yang pemakaiannya diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jenderal H.N.A. Swart pada tanggal 31 Juli 1915. Pada waktu itu bangunannya berupa sebuah bangunan Rumah Tradisional Aceh (Rumoh Aceh). Bangunan tersebut berasal dari Paviliun Aceh yang ditempatkan di arena Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonsteling) di Semarang pada tanggal 13 Agustus – 15 November 1914.  Pada waktu penyelenggaraan pameran di Semarang, Paviliun Aceh memamerkan koleksi-koleksi yang sebagian besar adalah milik pribadi F.W. Stammeshaus, yang pada tahun 1915 menjadi Kurator Museum Aceh pertama. Selain koleksi milik Stammeshaus, juga dipamerkan koleksi-koleksi berupa benda-benda pusaka dari pembesar Aceh, sehingga dengan demikian Paviliun Aceh merupakan Paviliun yang paling lengkap koleksinya. Baca pos ini lebih lanjut

Musium Tsunami Aceh

Museum Tsunami Aceh adalah museum untuk mengenang kembali peristiwa tsunami yang maha daysat yang menimpa Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 26 Desember 2004 yang menelan korban lebih kurang 240,000 orang.

Dibangun atas prakarsa beberapa lembaga yang sekaligus merangkap panitia. Di antaranya Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias sebagai penyandang anggaran bangunan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebagai penyandang anggaran perencanaan, studi isi dan penyediaan koleksi museum dan pedoman pengelolaan museum), Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sebagai penyedia lahan dan pengelola museum, Pemerintah Kota Banda Aceh sebagai penyedia sarana dan prasarana lingkungan museum dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) cabang NAD yang membantu penyelenggaraan sayembara prarencana museum. Baca pos ini lebih lanjut