Pemakaman “Kerkhof Peutjoet”

Pemakaman “Kerkhof Peutjoet”  adalah  kompleks pekuburan militer Belanda (Dutch Graveyard) berukuran 150 x 200 m yang berlokasi di Jalan Teuku Umar, Gampong Sukaramai (Blower) Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh.  tepat berada di belakang Objek wisata Museum Tsunami. Gerbang masuknya berada di samping objek wisata Museum Tsunami (Jl. Sultan Iskandar Muda).

Baiknya, setelah anda mengunjungi Museum Tsunami sebagai situs wisata Tsunami bisa dilanjutkan dengan mengunjungi Objek wisata pemakaman Kerkhoff sebagai situs wisata Sejarah di Banda Aceh. Tentu Objek Wisata ini menjadi daya tarik bagi wisatawan asing khususnya wisatawan asal negeri kincir angin. Pemerintah kerajaan Belanda juga menghormati warga Banda Aceh yang merawat pemakaman tersebut. Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Hutan Kota BNI Banda Aceh

Hutan Kota BNI ini terletak di desa Tibang, Kec. Syiah Kuala, tak terlalu jauh dari Simpang Mesra menuju arah Krueng Raya, tempat ini memang masih tergolong baru. Lokasinya yang sedikit tersembunyi, membuat anda terkadang bisa saja melewatinya jika tidak melihat papan nama Hutan Kota BNI yang ada di pinggir jalan. Lokasi ini juga tak jauh dari tempat wisata Alue Naga.
Hutan kota ini dibangun atas kerja sama Pemko Banda Aceh, BNI dan Yayasan Bustanussalatin serta masyarakat Tibang sendiri.

Hutan Kota bermula dari prestasi Abdul Mutalib Ahmad di bidang lingkungan. Beliau dianugerahi Kalpataru, yaitu penghargaan tertinggi untuk penyelamat lingkungan. Baca pos ini lebih lanjut

PLTD Apung dan Taman Edukasi Tsunami

PLTD Apung I  adalah kapal pembangkit listrik seberat 2.600 ton dan luas 1.600 m2 milik PT. PLN (persero) yang ditambatkan di pelabuhan Ulee Lheue sejak tahun 2003 untuk membantu suplai arus listrik bagi masyarakat di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar. Sebelumnya, kapal generator listrik berkapasitas 10 megawatt tersebut berlabuh di berbagai tempat dan terakhir bertugas di Kalimantan Barat. Dengan kekuatan listrik yang dihasilkan sebesar 10,5 MW tak heran kapal ini sangat penting peranannya bagi masyarakat Aceh apalagi ketika kecamuk konflik melanda Aceh arus listrik sering terganggu, keberadaan kapal ini cukup membantu.

Pada peristiwa Tsunami 26 Desember 2004 kapal tersebut terdorong ke daratan lebih kurang 3 km dan terdampar ditengah Gampong Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru. Saat tsunami menerjang di atas kapalnya ada 11 ABK tetapi dari 11 orang Baca pos ini lebih lanjut

Taman Putroe Phang Banda Aceh

Pinto Khop dalam Taman Putro Phang

Taman Putroe Phang adalah taman yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636) atas permintaan Putroe Phang (Putri Kamaliah) permaisuri Sultan Iskandar Muda yang berasal dari Kerajaan Pahang. Taman ini dibangun karena Sultan sangat mencintai permaisurinya sehingga sang permaisuri tidak kesepian bila di tinggal sultan menjalankan pemerintahan.

Di dalam Taman Putroe Phang terdapat Pintoe Khop merupakan pintu yang menghubungkan istana (Meuligoe) dengan Taman Putroe Phang yang berbentuk kubah. Pintoe Khop ini merupakan tempat beristirahat Putroe Phang, setelah lelah berenang, letaknya tidak jauh dari Gunongan, disanalah dayang-dayang membasuh rambut sang permaisuri, Disana juga terdapat kolam untuk sang permaisuri keramas dan mandi bunga.

Sebagai seorang permaisuri, Putroe Phang memiliki kecakapan dan kebijaksanaan sehingga mahsyur di dalam masyarakat Aceh. Dalam menyelesaikan sengketa hukum, masyarakat sering meminta pendapat beliau. Baca pos ini lebih lanjut

Taman Sari Banda Aceh

Taman Sari Banda Aceh

Taman Sari Banda Aceh berada tepat di depan kantor walikota Banda Aceh atau berada langsung disebelah kiri Masjid Baiturrahman Banda Aceh.

Letaknya yang strategis sebagai ruang hijau dengan luas 300 meter persegi, menjadikannya sebagai taman multi fungsi, yaitu sebagai tempat rekreasi dan juga merupakan simbol dari pembaruan dan harapan.

Setelah tsunami melanda Aceh pada 24 Desember 2004, Taman Sari menjadi kolam penampungan air laut. Kemudian taman ini direnovasi dan dibuka kembali atas bantuan dana yang diberikan oleh negara asing melalui lembaga kemanusiaan yang masuk ke Aceh.

Program pertama yang dilakukan dengan membersihkan sampah dan lumpur tsunami yang mengenangi areal taman. Setelah areal taman dibersihkan, komponen ruang taman mulai direkonstruksi kembali ke tempatnya semula. Areal taman juga diperluas dengan menambahkan bangunan serba guna yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat pameran, ruang pertemuan serta dilengkapi dengan sarana bermain anak, mushala, dapur, serta toilet umum. Baca pos ini lebih lanjut