Kunjungan Kepala Museum Negeri Kelantan

Banda Aceh Kepala Museum Negeri Kelantan Malaysia, YABrs Tuan Haji Dr Nik Muhammad Azlan Bin Ab Hadi bersama dengan sejumlah stafnya mengunjungi Kota Banda Aceh. Kedatangan Nik Muhammad Azlan disambut langsung Walikota Banda Aceh, Hj Illiza Saaduddin Djamal SE, Jumat (3/7/2015) di ruang rapat Walikota.

Nik Muhammad Azlan mengungkapkan kedatangannya, selain untuk menguatkan ukhuwah Islamiah juga dalam rangka mempelajari manajemen pengelolaan museum di Banda Aceh.

“Setelah bencana tsunami yang melanda Banda Aceh, kami lihat perkembangan museum di sini sangat bagus, kami ingin mempelajari seperti apa pengelolaannya,” ujar Nik Muhammad Azlan. Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Penerapan Konsep Triple Helix Membangun Penguasaan Pengetahuan Kebencanaan

triple helixBANDA ACEH-Kota Banda Aceh mencoba menerapkan konsep triple helix dengan penguatan Swasta, Pemerintah dan Universitas untuk membangun kemampuan penguasaan pengetahuan kebencanaan dan knowledge sharing kepada pihak lain termasuk manca negara.

Hal tersebut dikemukakan Wakil Walikota Banda Aceh Hj Illiza Sa’aduddin Djamal SE dalam sambutannya yang dibacakan Staf Ahli Walikota Bidang Hukum dan Politik Ir. T. Iwan Kesuma pada Penutupan Training Course on Disaster Risk Management, Sabtu (2/10) malam di Sulthan Hotel Banda Aceh.

Kegiatan yang berlangsung sejak 27 Oktober ini dilaksanakan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas yang bekerja sama dengan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, diikuti peserta dari beberapa negara diantaranya Fiji, Papua New Guinea, Timor Leste, Sri Lanka, Senegal dan Bangladesh. Baca pos ini lebih lanjut

Kapal di Atas Rumah Lampulo

Kapal diatas RumahSalah satu objek wisata yang paling terkenal di Lampulo, Kec. Kuta Alam Kota Banda Aceh  adalah kapal di atas rumah. Objek wisata itu merupakan saksi bisu sejarah bencana alam gempa dan tsunami 26 Desember 2004.

Menurut cerita, saat itu Hasru Yulian bersama Saiful Bahri selaku pengurus kapal sedang bersiap siap untuk pada hari Minggu 26 Desember 2004 untuk menurunkan kapal kembali ke sungai setelah dilakukan perbaikan.

Zulfikar, selaku pemilik kapal setelah menerima laporan dari adik iparnya sekaligus pengurus kapal mengarahkan kapalnya untuk dibawa ke Lhoknga untuk diisi pukat. Baca pos ini lebih lanjut

Pelabuhan Ulee Lheue

Pelabuhan Ulee Lheue selama ini dikenal sebagai satu-satunya pelabuhan yang ada di Kota Banda Aceh. Luas area Pelabuhan Ferry Ulee Lheue yaitu ± 8 Ha dengan pembagian lahan untuk terminal penumpang sebagai bangunan utama, lahan parkir, dermaga kapal cepat, dermaga kapal lambat (ferry), kolam pelabuhan, dan lain-lain.

Setelah bencana tsunami pada tahun 2004, kondisi Pelabuhan Ulee Lheue sangat memprihatinkan karena tak satupun bangunan fasilitas darat yang tersisa. Padahal saat itu pelabuhan ini juga sedang dalam tahap pembangunan beberapa gedung baru. Baca pos ini lebih lanjut

Tsunami Escape Building

Tsunami Escape Building  dibangun sebagai pusat evakuasi bagi masyarakat sekitar yang tinggal di sepanjang garis pantai bila sewaktu-waktu bahaya tsunami mengancam keselamatan jiwa penduduk. Tempat ini juga digunakan sebagai tempat pendaratan helikopter (helipad) guna memberikan bantuan kepada korban tsunami.

Dari tempat ini kita bisa melihat keindahan kota Banda Aceh hingga ke perbatasan pantai dan pulau Sabang. Bangunan ini menjadi salah satu daya tarik objek wisata di Kota Banda Aceh, ramai pendatang dari luar Aceh bahkan mancanegara datang untuk melihat langsung bangunan ini.

Gedung Tsunami Escape Building  yang berlantai 4 setinggi 18 m  ini dibangun di Kecamatan Meuraxa atas bantuan Pemerintah Jepang melalui JICS berdasarkan konsep awal yang dibuat oleh JICA Study Team dalam project Urgent Rehabilitation and Reconstrcution Plan (URRP) untuk Kota Banda Aceh pada Maret 2005 sampai dengan Maret 2006. Masing-masing gedung menghabiskan anggaran sekitar Rp 10,5 milyar.  Design bangunan escape building ini dibuat oleh konsultan asal Jepang Nippon Koei, Co. Ltd sebagai JICS Study Team pada tahun 2006. Tiap-tiap escape building dibangun dengan luas 1.400 meter persegi.

Gedung TDMRC Ulee Lheue

Gedung TDMRC (Tsunami & Disarter Mitigation Research Centre) terletak di Jl. Tgk Abdul Rahman, Gp. Pie, (jalan Ulee Lheue ke Peukan Bada) Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh. Tepatnya di sebelah Kuburan massal bekas Rumah Sakit Meuraxa (Latitude : 5º 33’13.97”E  Longitude : 95º 17’08.61”E).

Dirhamsyah, Direktur TDMRC menyebutkan, bangunan riset itu didanai oleh Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh – Nias, dengan anggaran sekitar Rp15 milyar. Juga dapat berfungsi sebagai escape building.

Bersama dengan Tsunami Escape Building di Desa Lambung, Desa Dayah Geulumpang dan Desa Alue Deyah Teungoh yang dibuat dengan dana dari pemerintah Jepang selesai pada bulan Austus 2008. Gedung yang sangat kokoh dan tinggi ini mempunyai tangga termasuk untuk orang cacat. Gedung ini diperuntukkan untuk tempat penyelamatan bila terjadi Tsunami.

Gedung TDMRC diresmikan 28 Juli 2008 oleh Wakil Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, Muhammad Nazar, yang dihadiri oleh Ketua Pelaksana BRR NAD-Nias, Kuntoro Mangkusubroto, Walikota Banda Aceh Mawardi Nurdin dan DR. Darusman Mewakili Universitas Syiah Kuala.

Baca pos ini lebih lanjut

Kapal di Atas Rumah Lampulo

Kapal diatas RumahSalah satu objek wisata yang paling terkenal di Lampulo, Kec. Kuta Alam Kota Banda Aceh  adalah kapal di atas rumah. Objek wisata itu merupakan saksi bisu sejarah bencana alam gempa dan tsunami 26 Desember 2004.

Menurut cerita, saat itu Hasru Yulian bersama Saiful Bahri selaku pengurus kapal sedang bersiap siap untuk pada hari Minggu 26 Desember 2004 untuk menurunkan kapal kembali ke sungai setelah dilakukan perbaikan.

Zulfikar, selaku pemilik kapal setelah menerima laporan dari adik iparnya sekaligus pengurus kapal mengarahkan kapalnya untuk dibawa ke Lhoknga untuk diisi pukat. Baca pos ini lebih lanjut